fun
I do realize that
Everybody has their own livin’ memory
Everybody has their own privacy
Everybody has their own life
It seems so selfish, but
I wanna be in your livin’ memory
I wanna be part of your privacy
Cos, after all
Honestly, I just wanted to be with you
Hidup Itu Adalah
Oleh: Bimo Zulkarnain ( @bimokonig )
Hidup Itu Adalah ketika kita dilahirkan… Hidup Itu Adalah saat melihat dunia.. Hidup Itu Adalah mendapat sentuhan Ibu.. Hidup Itu Adalah mendapat pelukan hangat.. Hidup Itu Adalah menikmati ASI.. Hidup Itu Adalah makan.. Hidup Itu Adalah minum.. Hidup Itu Adalah mendapat kasih sayang.. Hidup Itu Adalah ketika menangis.. Hidup Itu Adalah mencoba berdiri sendiri.. Hidup Itu Adalah mulai belajar jalan.. Hidup Itu Adalah mencoba berlari.. Hidup Itu Adalah disaat kita jatuh.. Hidup Itu Adalah saat kita diangkat.. Hidup Itu Adalah menyayangi Ibu & Ayah.. Hidup Itu Adalah mencintai keluarga..
Hidup Itu Adalah belajar membaca.. Hidup Itu Adalah belajar berhitung.. Hidup Itu Adalah memiliki teman.. Hidup Itu Adalah sekolah.. Hidup Itu Adalah ibadah.. Hidup Itu Adalah belajar berdoa.. Hidup Itu Adalah mempunyai cita-cita.. Hidup Itu Adalah berjuang.. Hidup Itu Adalah berusaha.. Hidup Itu Adalah bertahan.. Hidup Itu Adalah terjatuh.. Hidup Itu Adalah bangkit..
Hidup Itu Adalah ketika jatuh cinta.. Hidup Itu Adalah dicintai lawan jenis.. Hidup Itu Adalah diberi perhatian oleh lawan jenis.. Hidup Itu Adalah patah hati.. Hidup Itu Adalah selingkuh.. Hidup Itu Adalah belajar bersabar.. Hidup Itu Adalah mencintai dan dicintai.. Hidup Itu Adalah mendapat jodoh.. Hidup Itu Adalah bersama sehidup semati.. Hidup Itu Adalah menikah.. Hidup Itu Adalah memiliki keturunan.. Hidup Itu Adalah berhemat.. Hidup Itu Adalah menabung.. Hidup Itu Adalah memiliki tempat tinggal..
Hidup Itu Adalah jujur.. Hidup Itu Adalah apa ada nya.. Hidup Itu Adalah tertawa.. Hidup Itu Adalah cerita.. Hidup Itu Adalah masa lalu.. Hidup Itu Adalah menolong sesama.. Hidup Itu Adalah tersenyum.. Hidup Itu Adalah menari.. Hidup Itu Adalah bercanda.. Hidup Itu Adalah menikmati jerih payah.. Hidup Itu Adalah tantangan.. Hidup Itu Adalah motivasi.. Hidup Itu Adalah semangat.. Hidup Itu Adalah naik turun.. Hidup Itu Adalah berwarna.. Hidup Itu Adalah aturan.. Hidup Itu Adalah dengan rencana.. Hidup Itu Adalah ketika gagal.. Hidup Itu Adalah masalah.. Hidup Itu Adalah ketika terbangun.. Hidup Itu Adalah terinjak.. Hidup Itu Adalah pedih.. Hidup Itu Adalah terasing.. Hidup Itu Adalah terbuang.. Hidup Itu Adalah berontak.. Hidup Itu Adalah menyembuhkan.. Hidup Itu Adalah sepi.. Hidup Itu Adalah ramai.. Hidup Itu Adalah terancam.. Hidup Itu Adalah kejam.. Hidup Itu Adalah mengobati.. Hidup Itu Adalah kuat.. Hidup Itu Adalah lemah.. Hidup Itu Adalah kering.. Hidup Itu Adalah menerawang jauh.. Hidup Itu Adalah meramal.. Hidup Itu Adalah masa depan.. Hidup Itu Adalah keras..
Hidup Itu Adalah Marah.. Hidup Itu Adalah teriak.. Hidup Itu Adalah kesal.. Hidup Itu Adalah realita.. Hidup Itu Adalah sakit.. Hidup Itu Adalah mengobati.. Hidup Itu Adalah sebelum mati.. Hidup Itu Adalah untuk orang lain.. Hidup Itu Adalah..
Ketika ditanya “Hidup Itu Adalah?”. Sedikit yang terlontar dari mulut, tapi kalau disadari akan lebih banyak makna yang terkandung dari semua itu. Semoga kita tidak lagi ragu memaknai artinya “Hidup”..
*** TAMAT***
Hidup itu adalah…
A story by: Dyan Nuranindya
Hidup itu …
… adalahsebuah perjalanan panjang yang harus dilalui manusia. Manusia tidak ada yang pernah tahu kapan hidup akan berakhir. Mungkin saja hari ini…. Jam ini…. Menit ini…. Atau….
“AAAKKKHHH!!!!”
BRUUUKKK!!!
Sebuah teriakan bersamaan dengan jatuhnya seorang lelaki dari lantai dua sebuah kos-kosan di bilangan Jakarta. Suasana pagi yang tadinya ramai dengan anak-anak kecil yang berlarian gembira, burung-burung pipit yang berkicau, dan suara gesekan sapu di halaman mendadak sunyi senyap. Mungkin shock dengan peristiwa yang baru saja terjadi.
Mata lelaki itu terpejam. Tubuhnya tengkurap, tak bergerak sama sekali. Rambutnya basah oleh keringat. Apa dia terpeleset? Atau mungkin… seseorang telah mendorongnya?
Tiba-tiba sebuah suara membuyarkan kesunyian itu. Suara dari kamar kos yang berada di lantai bawah tepat dimana lelaki itu terkapar di depan pintunya, “Woy, woy, bangun lo, Nyet!”
“Tooo!! Uang kos bulan ini mana, heh!” Seorang wanita paruh baya berlari menghampiri. Dengan rokok di tangannya, ia memukul lelaki yang tergeletak itu dengan sapu lidi bekas menyapu halaman. Ia adalah sang pemilik kos-kosan.
Tubuh lelaki yang ternyata bernama Narto itu masih belum bergerak. Wajahnya terlihat pucat pasi. Persis seperti vampir di film action Cina. Tangannya mengepal. Membuat urat-uratnya terlihat jelas.
Tak berapa lama, Narto membuka matanya perlahan, menatap cowok pemilik kamar kos bawah yang tadi berusaha membangunkannya. “Gimana acting gue, Yo? Ada peningkatan nggak?”
Satrio, nama cowok pemilik kamar kos itu menatap Narto sambil tersenyum. Kemudian ia menunjukkan ibu jarinya, membuat Narto sedikit GR. Namun tak berapa lama ibu jarinya berbalik arah ke bawah. Dan ia pun kembali melanjutkan aktivitasnya, memasukkan pakaian-pakaiannya ke ransel.
“Ah, tai!” Narto mengumpat. Ia kemudian beranjak dari posisinya.
“Eh, mana uang kos bulan ini?!” wanita disebelahnya masih kekeuh menagih.
“Aduh sabar dong, Mimi…. nanti kalau saya berhasil acting terjun sampai mirip banget kayak mati, saya langsung bayar tiga bulan LUNAS!” Narto memang senang sekali memanggil wanita itu dengan sebutan Mimi. Karena wanita itu sangat terobsesi dengan Krisdayanti. Sampai-sampai ia mengoperasi hidungnya hingga mirip penyanyi itu.
“Ah, itu kata-kata lo tiga bulan yang lalu, To! Tetep aja tiga bulan nunggak!” ucap wanita itu sambil menghisap rokoknya dengan cepat. “Awas lo! Kalau bulan ini kagak bayar lagi, gue usir lo dari kosan gue!”
Namanya Narto. Pemuda asli dari Jombang. Menurut Satrio, Narto satu-satunya orang yang telah mengalami mati berkali-kali. Pekerjaannya sebagai stuntman di film memaksanya untuk selalu menghadapi kematian. Kadang dalam jarak yang terbilang tipis. Ia tak takut mati, karena tak pernah merasakan mati. Tapi ia takut hidup. Meskipun ia tahu kalau mau tak mau hidup itu harus dihadapi. Apapun resikonya. Begitu katanya.
“Kamu beneran mau naik Semeru?” tanya seorang gadis manis berbalut pakaian kasual yang sedang duduk di sudut meja di kamar kos Satrio. Sejak tadi ia memerhatikan pacarnya yang sibuk packing barang di ransel. “Cuacanya lagi nggak bagus lho.”
Satrio menarik tali ranselnya dan mengikatnya. Setelah beres, ia berjalan mendekati gadis itu. Tubuh Satrio yang tinggi dan bidang mampu membius hampir semua wanita di dunia ini. “Kamu kawatir banget?” tanya Satrio sambil melingkarkan tangannya pada pinggang gadis itu. “Nggak ada yang bisa memprediksi alam lagi. Kadang ganas, kadang lembut.”
“Sama kayak hidup,” potong cewek itu sambil menyentuh dada Satrio.
“Bener banget… sama kayak hidup.” Satrio mengulang kalimat yang diucapkan pacarnya dan mengecup lembut kening pacarnya. “Jadi nggak seharusnya kita takut selama kita udah merasa safety.”
Wajah cewek itu terlihat malas, “Kamu nggak usah berangkat deh… aku pengen berdua sama kamu…”
“Hey, tiga bulan lagi kan kita nikah. Kamu bisa berdua sama aku setiap hari.”
“Tapi….”
Belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, seorang cowok mengetuk pelan pintu kamar kosan Satrio. Sesaat kemudian muncul wajah yang begitu familier oleh mereka. Dia adalah Nando, sahabat terbaik Satrio. Pagi ini ia datang untuk mengantarkan Satrio ke stasiun kereta.
“Aku pergi ya, sayang…. Kamu pegang aja kunci kosan aku. Kalau kamu keluar, taro di tempat biasa.” Satrio mengangkat ransel, mengusap lembut kepala pacarnya, dan sekali lagi mendaratkan kecupan di keningnya.
“Takecare, Babe.”
***
Suara peluit yang memekakkan telinga menyadarkan Satrio pada sebuah realita kasat mata. Seakan menariknya pada sebuah dimensi kehidupan. Kereta ekonomi jurusan Jakarta-Malang perlahan beranjak dari stasiun, membawa raganya pada sebuah perjalanan panjang. Di atas rel yang tak terlihat di mana ujungnya.
Akhir-akhir ini Satrio sering melamun dan menyendiri dengan dunianya. Efek dari banyaknya persoalan yang menghantui pikirannya saat ini. Karier, pekerjaan, persahabatan, keluarga, dan kehidupan cintanya. Sudah tiga tahun ia berpacaran dengan Dewi. Gadis yang ia kenal sejak jaman kuliah dulu. Dewi mengajarkannya tentang cinta. Memberikan sensasi-sensasi manis di hidupnya. Menariknya tenggelam pada hasrat ingin memiliki gadis itu sepenuhnya. Hingga ia mereka sampai pada sebuah keputusan untuk hidup bersama dalam sebuah tali pernikahan. Ya, mereka akan menikah tiga bulan lagi.
Gerbong kereta itu terlihat penuh. Membuat kereta tanpa AC itu terasa pengap. Tak biasanya. Biasanya kereta penuh pada liburan panjang. Apa sebegitu parahkah kondisi ibukota saat ini? Hingga banyak orang yang nekat menghabiskan dua hari liburnya untuk menjauh dari peradaban ibukota hanya untuk mencari sebuah kedamaian? Tapi… tunggu, apa jangan-jangan memang tidak ada lagi sebuah kedamaian di ibukota. Pantas saja semakin banyak orang-orang gila berkeliaran di Jakarta.
Kereta terus melaju entah ke arah mana. Seringkali Satrio berpikir kalau seorang masinis adalah juru kunci ribuan nyawa. Sulit untuk mempercayai ketika ada ratusan orang pasrah duduk di dalam sebuah kereta tanpa tahu sebenarnya kemanakah kereta itu dibawa. Yang mereka tahu hanya tujuan akhir dari perjalanan itu. Yang mereka yakini menjadi sebuah kepastian. Padahal bisa saja sang masinis membelokkannya ke arah berbeda. Toh penumpang pun tak tahu. Mereka hanya percaya pada sang masinis. Apa mereka saling kenal?
Susunan tempat duduk di dalam kereta ini berhadap-hadapan. Standar kereta kelas ekonomi.
Satrio duduk tepat di hadapan seorang gadis berkacamata yang sejak tadi tekun membaca sebuah buku. Ah… paling novel percintaan. Aneh. Kenapa hampir semua cewek di dunia ini lebih suka berfantasi dengan dunia cinta yang sifatnya semu? Bukankah banyak cowok-cowok ganteng berkeliaran di sekeliling mereka? Satrio misalnya…
“Hai…” Satrio mencoba menyapa gadis itu ramah.
Gadis itu tak menjawab sama sekali. Menengok pun tidak.
Senyum lebar yang semula terbentuk di bibir Satrio perlahan lenyap. Salah tingkah. Ia langsung menyadari apa yang sedang terjadi ketika ia melihat earphone terpasang di telinga gadis itu. Cowok itu pun langsung mengangguk.
Kursi seberangnya ditempati oleh pasangan suami istri dengan empat orang anak. Cukup mengherankan melihat usia pasangan suami-istri itu yang sepertinya tak jauh berbeda dengan Satrio. Ketiga anaknya duduk di hadapan mereka. Sementara yang satu masih bayi dan menangis kencang di pelukan ibunya. Sejak dari Jakarta, ketiga anaknya cukup berisik. Lari kesana-kemari, berteriak-teriak, bahkan terkadang melempari kulit kacang sisa cemilan mereka hingga mengotori lantai gerbong. Berisik sekali!
Satrio beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju toilet di ujung gerbong. Posisi tempat duduknya yang berada di tengah gerbong membuatnya harus berjalan melewati beberapa tempat duduk di depannya.
Ada seorang pria yang dengan santainya mengangkat kakinya ke atas kursi sambil tertidur tanpa perduli dengan kenyamanan penumpang lain. Ada pula seorang ibu-ibu yang membawa banyak kardus yang entah berisi apa. Dan ada juga seorang ibu yang kerepotan memberikan minyak kayu putih kepada anaknya yang tak henti-hentinya muntah. Membuat satu gerbong itu penuh dengan bau minyak kayu putih.
Satrio tiba di pintu toilet yang tertutup. Ia membukanya dan…
“Anjing!” buru-buru pintu toilet itu ia tutup kembali. Itu hanyalah sebuah ungkapan reflek yang keluar dari mulutnya. Satrio beralih ke sambungan antar gerbong. Dilihatnya seorang lelaki berjaket hitam sedang duduk di lantai sambil menghisap rokok dalam-dalam.
Satrio duduk sejajar dengan lelaki berjaket itu. Ia mengambil bungkus rokok pada saku jaketnya dan mengambil satu batang. Rokok telah terjepit di kedua bibirnya. Tangannya lalu merogoh-rogoh kantong celana dan jaketnya. Mencari sesuatu.
Secercah cahaya api keluar dari sebuah korek api gas di hadapannya. Satrio langsung menengok pada lelaki berjaket yang tengah menawarkannya api itu. “Makasih, Mas,” ujar Satrio sambil membakar rokoknya. Asap langsung mengepul ketika ia menghembuskan nafasnya.
“Udah dari tadi tuh, mereka di dalam toilet,” ucap lelaki berjaket sambil tersenyum geli.
“Kaget saya, Mas.”
Lelaki berjaket itu hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
“Emangnya nggak takut ketahuan petugas? Mana pintunya nggak dikunci lagi.” Satrio masih bertanya dengan nada heran.
“Yaah… namanya juga udah keburu napsu. Mana sempet mikir kayak gitu. Buktinya, tadi Mas buka pintu aja mereka cuek, kan?”
Satrio tertawa kecil menanggapi ucapan cowok itu. “Iya juga sih, mas.”
Cowok berjaket itu menghela nafas panjang. Berbarengan dengan asap rokok dari mulutnya. “Hidup itu makin lama makin membingungkan. Terlalu banyak misteri. Kadang semua terbalik-balik. Yang benar jadi salah, yang salah jadi benar. Semuanya jadi abstrak. Nggak ada lagi hitam dan putih. Yang ada hanyalah abu-abu.”
Dari balik pintu kereta terlihat deretan pepohonan berganti menjadi petak-petak sawah, kemudian berubah menjadi deretan rumah-rumah kecil di sepanjang jalan.
“Mas, mau pulang ke Malang atau….,” tanya Satrio
“ Saya mau jenguk anak-istri di kampung.”
“Ooh…” Satrio menganggukkan kepalanya.
“ Kalau, Mas?” cowok itu bertanya balik.
Satrio mengetuk rokoknya pada sebuah sudut, membuat abunya berjatuhan. “Rencananya saya mau naik semeru, Mas…”
“Wah…wah… hebat!” cowok itu tersenyum lebar pada Satrio. Entahlah. Mungkin hanya sekedar basa-basi belaka atau memang tulus.
“Udah lama tinggal di Jakarta, Mas?”
“Saya kerja di Jakarta sudah hampir lima belas tahun lebih. Saya ini hanya lulusan SD. Waktu merantau dari Malang, saya belum bisa apa-apa. Dan belum kebayang bentuk Jakarta seperti apa. Saya cuma modal nekat. Jadi apa saja saya kerjakan waktu itu. Dari yang buruk seperti mencopet, sampai menjadi pegawai seperti sekarang ini. Dulu awal-awal saya sempat tidur di emperan toko. Sekarang alhamdulillah sudah bisa mengontrak rumah meskipun kecil.”
Satrio menyimak cerita cowok itu. “Sudah berkeluarga?”
Cowok berjaket itu tersenyum lebar, “Alhamdulillah, anak dua.”
Bersamaan dengan itu sepasang muda-mudi baru saja keluar dari dalam toilet. Si cewek terlihat membenarkan pakaiannya dan berjalan lebih dulu. Sementara si cowok sempat menengok ke arah Satrio, namun ia buru-buru bergegas masuk ke gerbong mereka.
“Bener kata orang, kalau belum tinggal di Jakarta, belum tau rasanya berjuang untuk hidup.”
“Iya, hidup itu adalah perjuangan, Mas,” jawab Satrio sambil kembali menghisap rokoknya yang semakin pendek. Ya, hidup adalah perjuangan. Kira-kira itulah hukum yang diajarkan oleh kaisar Constantinus kepada rakyatnya ketika ia menjadi kaisar Romawi. Itu yang Satrio baca di buku.
Lelaki berjaket itu kembali tertawa. “Bukan cuma itu, Mas…” Ia menghentikan kalimatnya. Sesaat kemudian ia menengok ke arah Satrio. “Bagi saya….hidup itu adalah perubahan. Baik-buruk, sedih-bahagia, kaya-miskin, itu semua adalah perubahan. Kalau nggak ada perubahan, buat apa hidup?”
Satrio terdiam. Ia berpikir dalam hati. Ia mulai ragu dengan pandangan dirinya dalam memaknai hidup selama ini. Cowok di hadapannya nyaris mematahkan berbagai filosofinya tentang hidup.
“Hidup itu kan nggak pernah bisa diulang ataupun mundur. Sama seperti kereta ini. “
Terbayang di benak Satrio bentuk ransel yang selalu dibawanya naik-turun gunung. Baginya selama ini, hidup adalah layaknya seseorang pendaki yang menaiki gunung. Ketika berangkat, ia akan terobsesi mencapai puncak gunung. Tapi alam tak pernah bisa diprediksi. Pendaki tak pernah tahu apa yang akan ia hadapi di perjalanan menuju puncak itu. Bisa saja dia akan bertemu binatang buas, jurang, badai, atau apapun itu. Maka setiap pendaki selalu membawa tas besar di punggungnya sebagai bekal untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi selama perjalanan.
Tiba-tiba sebuah pertanyaan meluncur dari mulut lelaki berjaket itu. “ Menurut Mas, hidup itu apa?”
***
Satrio terjaga dari tidurnya di kereta karena cahaya keemasan yang menyusup melalui jendela kereta. Matahari sore itu begitu menyilaukan mata. Membuat kulitnya seketika terbakar. Bau keringat yang bercampur dengan minyak angin semakin jelas tercium di gerbong itu.
Dilihatnya gadis di hadapannya masih sibuk membaca novel sambil mendengarkan lagu dari iPod miliknya. Sepertinya volume suaranya sengaja ia pasang kencang-kencang agar kegaduhan di gerbong itu tidak mengganggunya. Sesekali ia menggerak-gerakkan kepalanya seraya mengikuti irama musik yang sedang di dengarkannya.
Satrio memerhatikan setiap detail wajah gadis itu. Kalau diperhatikan dengan seksama, wajahnya manis. Kulitnya sawo matang. Bola matanya terlihat kecokelatan dibalik kacamata yang dikenakannya. Umurnya pasti sekitar dua puluh lima tahun. Satrio berani bertaruh kalau gadis itu pasti orang Jawa asli. Bentuk wajahnya meyakinkan Satrio akan hal itu.
“Karcis! Karcis!” Seorang petugas kereta berpakaian biru mendatangi kursi Satrio. Dari tulisan di dadanya, terbaca jelas nama lelaki itu. Sabar. Nama yang sangat kontras dengan perangainya yang justru terlihat tak sabaran.
Satrio berusaha mencari-cari karcis keretanya. Ketika menemukan kertas yang dicarinya berada pada saku belakang celananya, ia langsung memberikannya pada petugas.
Gadis di hadapannya tak bergeming. Ia masih serius membaca. Padahal petugas kereta itu berkali-kali menagih karcis padanya. Sampai-sampai Satrio harus mengibaskan tangan di depan wajah gadis itu, baru ia menyadari. Tapi anehnya, gadis itu kembali sibuk dengan novel di tangannya. Sebegitu menarik kah cerita novel itu?
“Hai…” Satrio kembali mencoba menyapa gadis itu untuk kedua kalinya. Tapi tetap saja tak berhasil membuat gadis itu memalingkan wajah ke arahnya. Apakah ia berpikir bahwa lelaki di hadapanya orang jahat? sehingga tak pantas di tanggapi seandainya ia mengajaknya bicara.
Satrio kembali mengibaskan tangannya di depan gadis itu. Untuk kali ini sang gadis menengok ke arahnya.
“Boleh kenalan?” Satrio bertanya sambil mengulurkan tangannya. Berharap gadis itu membalasnya.
Gadis itu tersenyum manis sambil mengangguk. Kemudian ia menjabat tangan Satrio.
“Dari tadi kita duduk berhadap-hadapan tapi sama sekali belum kenalan. Apalagi ngobrol. Habisan dari tadi kamu kayaknya serius banget baca buku.” Satrio berkata panjang-lebar. Seakan hasratnya untuk mengobrol dengan gadis itu tercurahkan seluruhnya.
Gadis itu terdiam menatap Satrio. Keningnya berkerut. Tiba-tiba ia memberikan tanda dengan telapak tangannya agar Satrio menunggu sejenak. Gadis itu terlihat sibuk mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Kemudian diambilanya sebuah buku kecil dan bolpoin dari sana.
Satrio memerhatikan gadis itu yang nampak menulis beberapa kalimat dalam buku kecil itu.
Nama saya Intan. Nama kamu siapa?
Tulis gadis itu di dalam buku. Kemudian ia memberikan buku dan bolpoin itu pada Satrio.
Saya Satrio.
Gadis itu tersenyum ketika membaca tulisan Satrio pada bukunya. Kemudian bibirnya terbuka, mengeluarkan satu dua kalimat yang sulit dipahami oleh orang kebanyakan. Namun entah kenapa Satrio mampu memahaminya.
“Ooh, kamu minta saya bicara pelan-pelan?” tanya Satrio berusaha memahami ucapan gadis itu. Membuat gadis itu mengangguk senang dan langsung menuliskan kembali dua kalimat di dalam buku catatannya.
Maaf, saya tidak bisa mendengar. Saya memahaminya lewat gerakan bibir.
“Nggak apa-apa, nggak perlu minta maaf,“ ujar Satrio sambil tersenyum ramah. Menunjukkan gigi-giginya yang tersusun rapih. Kemudian ia kembali bertanya, “Itu… alat bantu dengar?”
Kening Intan berkerut sesaat. Kemudian ia kembali tersenyum lebar. Perlahan ia melepas earphone yang ia kenakan dan memberikannya pada Satrio.
Satrio menerima earphone yang terhubung pada iPod pink milik Intan. Kemudian ia mengenakannya, mencoba mendengarkan apa yang sedang diputar gadis dihadapannya. Tidak ada suara disana. “Lho, nggak ada suaranya? Jadi dari tadi Ipod-nya mati?”
Intan tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya. Seakan ia telah berhasil mengelabui orang-orang disekelilingnya dengan pura-pura mendengarkan musik.
Dibalik cahaya senja, Satrio dan Intan menikmati sisa perjalan itu dengan mengobrol, bercanda, dan saling bercerita. Dengan cara yang cukup aneh menurut kebanyakan orang. Satrio seakan berbicara sendiri. Tapi ia tak perduli. Intan terlalu menyenangkan untuk diajak ngobrol. Berbeda dengan anggapannya di awal perjalanan yang mengira gadis itu sangat sombong dan angkuh.
Intan bercerita panjang lebar mengenai hidupnya. Dia pernah berpikir kalau Tuhan tidak adil pada hidupnya. Kenapa Tuhan tidak melahirkannya dalam keadaan ‘normal’ layaknya manusia pada umumnya? Bukankah Tuhan itu adil seadil-adilnya? Kenapa ia tak mampu mendengar?Padahal bukan perkara sulit untuk pencipta jagad raya ini untuk membuat seorang bayi dapat mendengar. Tapi kenapa Tuhan tidak melakukannya?
Sekilas Intan memang nampak normal. Berbagai umpatan, cacian, sumpah serapah sering kali ia terima karena ketidaktahuan orang lain akan kelemahannya. Sejak itulah ia menganggap alat bantu dengar tak banyak membantu. Karena ia tetap tak mampu mendengar dengan baik. Maka ia tak lagi mengenakan alat itu lagi. Semenjak itu pula ia berjanji pada dirinya sendiri kalau ia tak mau lagi merasa berbeda. Ia sama seperti gadis-gadis lain seusianya. Ia mempuanyai hak yang setara dengan orang lain. Dan itu harus ia perjuangkan.
Intan menyadari bahwa hidup adalah bersyukur. Bukannya selalu mengeluh tentang sebuah keadaan. Baginya hidup itu terlalu singkat kalau harus mendengarkan keluhan-keluhan manusia tentang hidup.
Gadis itu kembali memberikan bukunya pada Satrio. Cowok itu langsung membaca kalimat yang tertulis di bukunya itu dan terdiam menatap Intan.
Kalau menurut Satrio, hidup itu apa?
***
Udara dingin kota Malang langsung menyusup melalui celah-celah pakaian Satrio ketika kakinya melangkah keluar dari gerbong kereta yang padat itu. Ditengah hiruk-pikuk stasium kereta, matanya menangkap sosok Intan yang tengah berpelukan bahagia kakek-neneknya.
Satrio juga melihat sosok lelaki berjaket yang menemaninnya mengobrol di lorong sambungan kereta. Ia terlihat dijemput oleh istri dan kedua orang anaknya.
Dan Satrio….
Cowok itu mengangkat ransel, tersenyum menatap kebahagiaan di depan matanya. Kereta ini telah membawanya ke tujuan akhir sebuah perjalan panjang. Sang masinis telah menyelesaikan tugasnya dengan baik dengan menepati janjinya, membawa seluruh penumpang sampai sengan selamat di tujuan akhir. Ia mengantarkan seluruh penumpang pada kebahagiaan mereka masing-masing.
Perjalanan itu memberikan pelajaran-pelajaran berharga pada Satrio tentang arti hidup lewat kacamata berbeda. Benar, hidup adalah sebuah pembelajaran. Hingga akhirnya kita akan sampai di tujuan yang sama. Sebuah kehidupan kekal bernama surga dan neraka. Seperti apa yang telah dijanjikan dalam sebuah keyakinan.
Loket penjualan tiket kereta terlihat di ujung stasiun. Seorang wanita muda dengan rambut diikat berantakan, duduk di balik loket.
Satrio membungkukkan tubuhnya. Dengan senyum mengembang dan tatapan penuh keyakinan, ia berkata kepada wanita muda itu…
“Satu tiket untuk ke Jakarta. Kereta paling cepat ya, Mbak…”
***
Hidup itu adalah sebuah kepingan-kepingan puzzle yang sulit untuk dimengerti. Terkadang kita lelah, dan berhenti di tengah jalan sebelum puzzle itu tersusun lengkap. Tapi selalu ada rasa penasaran kalau kita belum menyelesaikan susunan puzzle itu.
Satrio memilih membatalkan keinginannya menaklukan Mahameru untuk kesekian kalinya. Ia telah mengabari teman-teman naik gunungnya di Malang atas keputusan gilanya hari itu: Sampai di Malang, dan kembali lagi ke Jakarta. Sinting! Entahlah, ada hasrat tinggi di dalam dirinya untuk melakukan itu.
Bendera kuning terpasang ketika Satrio tiba di halaman kos-kosannya. Pagi-pagi begini kos-kosan memang selalu sepi lantaran penghuninya sudah berangkat bekerja. Tapi… tunggu dulu. Ini kan hari minggu. Hari libur. Kenapa kos-kosan sepi.
“Satrio!”
Sebuah suara membuyarkan tanda tanya besar di benak Satrio. Ia menengok ke arah datangnya suara dan mendapati seorang pria penjaga warung rokok dekat kos-kosan tengah berlari ke arahnya.
“Lo katanya ke Malang, Sat?” tanya pria itu ketika tiba di hadapan Satrio.
“Emang sih, tapi balik lagi.”
“Kenapa?” tanya pria itu penasaran. Namun kemudian ia buru-buru menarik lagi ucapannya. “Ah, nggak penting. Elo kan emang suka nggak jelas.” Dengan sekali tarikan nafas pria itu mulai mengabarkan hal yang cukup mengejutkan bagi Satrio. “Sat, Narto meninggal, Sat. Tadi malem. Jatoh di lokasi syuting. Tadi pagi jenazahnya langsung dibawa ke rumahnya di Jombang. Anak-anak banyak yang ikut.”
“Hah?!? Narto?!?” Satrio berkata tak percaya dengan baru saja di dengarnya. Narto akhirnya merasakan mati yang sesungguhnya. Apa ia ketakutan saat ini? Sama seperti ketika ia mengatkan kalau dirinya takut hidup?
Satu hal yang langsung terlintas di pikiran Satrio adalah menghubungi teman-teman kosnya tentang bagaimana kepastiannya.
Dengan cepat Satrio menuju kamar kosnya. Tangannya meraba-raba bagian atas pintu untuk mencari kunci kamarnya. Tempat biasa Satrio dan pacarnya, Dewi menyimpan kunci. Tidak ada. Itu tandanya Dewi membawa kuncinya. Reflek tangan Satrio menekan gagang pintu kosnya dan…
“Keluar lo semua dari kamar gue!” ucap Satrio sepersekian detik ketika ia melihat apa yang sedang terjadi di kamar kosnya.
“Sat, aku bisa jelasin semua…”
“KELUAR!!!”
“Sat, gue…”
“KELUAR! GUE BILANG KELUAR!”
Dewi buru-buru membenahi pakaiannya dan keluar bersama Nando. Meninggalkan Satrio yang tengah berdiri menghadap tembok dengan gejolak emosi yang memenuhi seluruh aliran darahnya. Tubuhnya bergetar hebat atas apa yang baru saja dilihatnya. Hatinya begitu hancur melihat pacar yang sangat dicintainya bercumbu dengan sahabatnya sendiri di kamarnya, di atas tempat tidurnyanya, menggunakan batal yang sama dengannya. Sesaat kemudian kepalan tangannya menghantam tembok, mengeluarkan cairan merah dari buku-buku jarinya.
Segenap emosi yang meraung-raung di dirinya memaksanya untuk menghilangkan semua yang ada di atas tempat tidurnya. Bantal, guling, seprai, selimut, semuanya. Satrio membuka pintu kamarnya lebar-lebar dan melemparkan semua ke luar kamar. “ANJIIIIIIING!!!!”
Teriakan Satrio terdengar seantero kos-kosan. Membuatnya ia berpikir akan sebuah pertanyaan yang selama ini melayang dipikirannya….
Hidup itu… adalah…
…
…
Tidak pernah ada jawaban. Hidup itu adalah sebuah rahasia. Biarkan semua mengalir apa adanya. Sampai jantung ini tak berdetak lagi… Sampai raga ini terlepas dan terbang menuju tempat terakhir di alam raya ini….
TAMAT
hidup itu adalah…
ditulis oleh : @anggabegood
Ehmmm… sepertinya judul di atas jadi judul yang butuh waktu paling lama buat gw berpikir mau menulis apa, karena gw berpendapat kalau hidup itu akan selalu jadi misteri yang cuma bisa dipecahkan oleh masing-masing orang yang mengalaminya, dan masing-masing orang yang hidup di planet bumi ini punya pemecahan atas masalah hidupnya dengan cara yang berbeda-beda pula. Tapi sepertinya kali ini gw akan menulis sebagian kecil tentang pandangan gw akan hidup itu sendiri.
Menurut gw hidup itu adalah sebuah pilihan akan pilihan yang lain, sebuah mata rantai akan pilihan yang hanya akan berhenti saat suatu pagi kita tidak lagi menghirup oksigen yang ada di bumi alias meninggal. Dari hal yang paling simpel sampai hal yang paling berat sekali kita sebagai manusia “dipaksa” untuk memilih, dan ketika kita memilih sebuah pilihan kita akan dipaksa lagi untuk menghadapi pilihan yang lain lagi begitupun seterusnya.
Mungkin karena terlalu biasa dalam hal pilih-memilih selama kita hidup, kita engga pernah menyadari betapa banyaknya pilihan yang sudah kita buat di dalam hidup itu sendiri, kita terlalu ribet sama apa yang jadi impian, cita-cita, dan tujuan kita sampai-sampai mengesampingkan pilihan-pilihan kecil yang selalu kita buat setiap harinya. Saat kita bangun di pagi hari kita punya pilihan untuk langsung mandi dan melakukan semua aktifitas kita hari itu atau sarapan dulu, saat kita memilih sarapan kita harus memilih lagi mau sarapan apa, lalu pilihan kita jatuh pada sebungkus mie instan yang bisa langsung tersaji dengan cepat, itu juga karena kita memilih efisiensi waktu supaya kita nanti engga bakalan telat berangkat ke kantor atau sekolah. Saat memasak mie instan pun kita harus memilih mau rasanya pedas atau sama sekali tidak memberikan bubuk cabe yang memang sudah jadi satu paket saat kita membeli mie instan tersebut di mini market dekat rumah kita, selesai makan akhirnya kita mandi dan selesai mandi kita harus memilih akan mengenakan baju yang mana, celana panjang warna apa, sepatu kerja atau sepatu kets, lalu mau pergi ke kantor naik bus atau taksi.
Dari kegiatan saat kita baru bangun tidur saja kita sudah banyak sekali melakukan pilihan untuk membuat semua aktifitas kita itu berjalan dengan lancar dan baik, walaupun sepele kelihatannya tapi pilihan-pilihan kecil yang kita buat saat baru bangun tidur ternyata bisa memberikan efek yang sangat besar untuk kita menjalani hari kita sampai malam nanti. Banyak orang ketika punya waktu untuk mandi yang sedikit bisa ngomel-ngomel karena moodnya jadi tidak baik, atau hanya karena mereka tidak sempet sarapan pagi tadi makanya di kantor bawaannya marah-marah melulu, persis kaya seorang wanita yang baru hari pertama menstruasi (xixixi).
Pilihan-pilihan kecil itu bagi gw kaya sebuah potongan puzzle, yang nantinya kalau kita bisa merangkainya dengan baik akan membentuk sebuah gambaran yang bisa dilihat oleh semua orang. Gambaran besar itu adalah diri kita sendiri saat menjalani sesuatu yang namanya hidup, orang bisa melihat kita melalui gambar besar itu dan mencernanya dengan cara mereka masing-masing. Kalo ada pilihan kecil kita yang salah ada kemungkinan kalau orang lain nanti tidak akan bisa melihat gambaran besar diri kita dalam menjalani hidup secara utuh dan jelas. Dan menurut gw memang sudah jadi tugas kita untuk selalu memperhitungkan matang-matang tentang apa saja yang mau kita pilih, baik besar maupun kecil. Kalau ada hal-hal lain yang mengikuti pilihan kita nantinya, menurut gw itu adalah wujud konsekuensi dari pilihan yang kita buat, baik dan buruk hasilnya tergantung dari pilihan yang kita ambil dan kita buat.
catatan kaki : kita selalu punya hak untuk memilih dan dipilih
anggabegood
By: Dyan Nuranindya
Gelap.
Tidak ada cahaya…
Tidak ada suara…
Hampa…
Mati….
Dia terjaga dari tidurnya. Tidur yang begitu terasa lama. Tubuhnya berkeringat. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tahu ia tidak sedang bermimpi. Tapi….
Orang bebas memanggil dirinya siapapun. Kadang ada yang memanggilnya Nyet, Njing, Bro, Cuy, apapun sesuka hatinya. Seakan dia makhluk yang terlahir tanpa nama. Apalah arti sebuah nama. Tapi dia bernama. Setidaknya sebuah kata yang menunjukkan identitasnya pernah tertulis di papan boks bayi di sebuah rumah sakit. Langit. Ya, namanya Langit. Lelaki bertubuh tegap bidang dengan wajah yang layak dimasukkan di layar kaca. Dan membuat seluruh kaum hawa di bumi ini bertekuk lutut dihadapannya.
Langit menyadari ada yang aneh di kamarnya. Ya, ia yakin dia terbangun di kamarnya. Kamar yang telah puluhan tahun menjadi wilayah kekuasaannya. Ia tidak mungkin salah. Tapi ia heran kenapa segala sesuatunya di kamar ini menjadi janggal? Mana poster Marlyn Manson yang terpampang besar di tengah-tengah kamar itu? Mana juga komputer canggihnya dimana dia selalu memajang foto-foto wanita setengah telanjang disana? Lalu… bau apa ini? Kenapa baunya begitu berbeda? Bau bedak bayi. Bukan bau asap rokok yang selalu memenuhi kamarnya karena ketergantungannya pada benda itu. Kemana juga botol-botol minuman koleksinya?
Langit beranjak dari tempat tidurnya dan mencoba menatap sekelilingnya. Ya, ini kamarnya. Tapi bukan kamarnya sekarang. Ini kamarnya waktu kecil. Kamar yang penuh kebahagiaan. Di mana ia bebas melakukan apapun sesuka hatinya. Mencoret-coret tembok, meloncatloncat, menendang-nendang bola, berteriak, ataupun menangis.
Ia menengok pada jam di pergelangan tangannya dan meilhat tanggal dan waktu yang terlihat disana. 22 Maret 2010. Pukul 16.00.
Dengan cepat langit berlari pada kaca kamarnya yang biasa ia letakkan di sudut lemari. Ia terkejut menatap bayangannya di cermin. Ia melihat dirinya sendiri di cermin. Tapi bukan tubuhnya yang sekarang. Tapi dirinya saat masih kecil. Saat ia memiliki kamar dengan perabotan yang ia lihat saat ini. Ia menyentuh wajahnya sendiri dengan panik dan berteriak sekencang-kencangnya. “AAAAKKKKKHHHH!”
“Seharusnya kamu nggak panik.” Sebuah suara mengagetkannya. Membuatnya melonjak dan langsung merapat ke tembok.
“Ma-mama…?” tanyanya ragu ketika menyadari siapa orang yang baru saja mengagetkannya.
Wanita di depannya tersenyum hangat. Menatapnya dengan penuh kelembutan seperti biasanya. Tatapan yang selalu dibalas benci oleh Langit karena ia merasa Mamanya terlalu ikut campur urusannya. Terlalu melarang apapun yang dilakukannya. Terlalu kampungan untuk memahami pergaulan anak lelaki satu-satunya itu. Terlalu penuh rasa curiga…
Tapi entah kenapa saat ini ia begitu butuh tatapan itu. Ia begitu butuh senyuman hangatnya. Dan… hey, kenapa keriput di wajah Mama menghilang? Kenapa ia terlihat sangat cantik dan mempesona saat itu?
“Kita ketemu lagi, ya… “
“Ketemu lagi?” Langit masih heran.
“Kamu ingat rumah ini?Kamar ini? Kamu ingat perempuan yang sedang bermain ayunan di taman itu?” tanya Mama sambil menatap teduh ke luar jendela kamar dan menunjukkan arah dengan dagunya.
Langit buru-buru mendekat ke jendela. Masih dengan wajah waspada karena ketakutan luar biasa yang menjalar di dirinya. Matanya tak lepas dari wajah Mama. Ia menengok ke luar jendela, sama seperti yang dilakukan oleh Mamanya. Ya, dia melihat seorang perempuan cantik bermain ayunan. Wajahnya tersenyum bahagia.
“Chyntia…” Langit tahu betul siapa cewek itu. Ia ingat betul dengan mantan pacarnya yang memiliki tingkat sabaran diatas rata-rata. Mantan pacarnya yang tak pernah mengeluh, dan mudah sekali memaafkannya. Padahal Langit tahu betapa brengseknya dia saat bersama Chyntia. Betapa banyak wanita-wanita lain selain gadis itu disekelilingnya yang dengan bangga berhasil ia pacari. Dia berikan harapan-harapan palsu hanya untuk sebuah jawaban, aku mau tidur sama kamu.
“Dia jodoh kamu.”
Langit menengok kearah Mamanya, kaget dengan ucapan wanita itu barusan. Tahu apa Mama soal jodohnya?
“Kamu ingat bagaimana kamu memutuskan hubungan dengannya?” Mama tersenyum. Kemudian ia melanjutkan kalimatnya, “Kamu datang di hari ulang tahunnya dalam keadaan mabuk berat . Dan kamu berikan ucapan selamat ke dia sekaligus kata putus.” Getaran suara Mama begitu terasa penuh emosi. “Apa kamu tahu kalau pada saat itu Chyntia justru ingin memperkenalkan kamu ke orang tuanya? Kamu bayangkan betapa malu dan kecewanya dia saat itu?”
Gejolak penyesalan terasa di hatinya. Ia tersungkur. Entah kenapa Langit merasa semua di dalam dirinya terlepas dari kontrolnya. Seluruh perasaan seperti tidak memiliki tameng yang cukup kuat. Topeng dewa yang biasa ia kenakan untuk menutupi perasaannya seperti hilang ditelan bumi. Ia menjadi tak berdaya. Begitu ringkih. Ia merasa mamanya dapat membaca apapun yang ada di pikirannya saat itu.
“Nggak usah menyesal. Karena dia sudah menjadi milik kamu saat ini…”
“Ma-maksud Mama?”
“Kamu sedang berada di surgamu, Nak… kamu berada di tempat terindah ketika kamu berada di dunia. Kamu di surgamu. Apa yang kamu lihat saat ini adalah saat dimana kamu merasa paling bahagia di dunia..”
Surga? Bukankah katanya surga adalah tempat dimana penuh sungai-sungai, tanah subur, pelangi dan kebahagiaan? Apa semua itu hanya khayalan manusia semata? “A-aku…”
Mama tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya pelan… “Ya, kamu sudah meninggal. Tuhan sudah mempertemukan kita di waktu yang paling tepat.”
***
Langit terbangun dari tidurnya. Untuk beberapa saat ia terdiam. Mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu. Matanya menatap sekeliling kamarnya.
“Fuiiih…” ucapnya lega ketika menyadari keberadaannya. Ia di kamarnya. Ya, kamarnya yang sekarang. Dimana terdapat poster Marlyn Manson yang terpampang besar di tengah-tengah kamar, komputer yang penuh dengan foto-foto wanita setengah bugil, dan botol-botol minuman koleksinya. “Alhamdulillah…” what?!? Wow! Sudah lama sekali ia tidak mengucapkan kata-kata itu. Tapi mendadak kata-kata itu meluncur dengan sendirinya tanpa ia sempat berpikir lagi.
Ia tersentak ketika mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Belum sempat ia membuka pintu, seorang lelaki berwajah mirip dirinya, mengenakan baju hitam-hitam, menongolkan kepalanya.
“Langit! Buruan kamu siap-siap! Ibumu sudah mau dibawa ke pemakaman. “
Langit terdiam. Detak jantungnya kembali bergerak cepat. Ia menengok pada jam di pergelangan tangannya dan meilhat tanggal dan waktu yang terlihat disana. 22 Maret 2010. Pukul 14.00.
Seakan sebuah kilat menyambar di kepalanya. Dalam hatinya ia mulai menyebut kasta tertinggi dari seluruh jagat raya ini. Tuhan. Ia ketakutan. Tubuhnya berkeringat. Kalau mimpi itu benar, berarti dia hanya memiliki waktu selama dua jam untuk tetap bernafas.
Langit mencoba meyakinkan dirinya kalau apa yang ia lihat tadi hanyalah sebuah mimpi. Itu hanyalah sebuah ketakutan dia . Dan mungkin hanya sebuah ilusi karena Mama yang baru saja dipanggil lebih dulu. Ah, sudah lupakan saja….
***
Suasana pemakaman berlangsung khidmat. Orang-orang berbondong-bondong datang untuk mengantarkan jenazah Mama dari Langit sampai ke peristirahatannya yang terakhir. Pernah ada yang bilang, seseorang yang punya hati baik selama di dunia akan terlihat dari banyaknya orang yang datang sewaktu pemakaman. Dan inilah yang terlihat. Mama orang baik…
Sepanjang pemakaman, Langit terus-terusan berpikir bagaimana dia mati nanti? Apakah ia akan masuk surga? Ataukah dia masuk neraka? Apa justru ia tak akan diterima keduanya karena memang tak ada tempat yang pantas untuk dirinya…
Tiba-tiba matanya menangkap sosok yang begitu menenangkan hatinya. Seorang gadis cantik tengah berjalan ke arahnya… “Chyntia.”
“Turut Berdukacita, ya…” ucap gadis itu lembut sambil memeluk Langit. Seakan segala sakit hatinya dimasa lalu telah meluap pergi.
“Thanks, Chyn..” jawab Langit. Kemudian ia menatap gadis itu. “ Sama siapa kesini?”
“Sendiri.”
“Aku anter pulang ya….”
Chyntia terdiam sejenak. Kemudian ia menganggukkan kepalanya.
Mobil sedan hitam itu melaju kencang dibalik rimbunan pepohonan. Langit memang terbiasa membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Chyntia tahu betul kebiasaan Langit. Ia hafal bagaimana cara cowok itu membawa mobil. Bagaimana ia selalu memegang kemudi dengan tangan kirinya, sementara matanya menatap lurus ke jalanan di depannya. Sorot mata elang yang begitu tajam. Tapi kali ini begitu berbeda. Karena Langit memegang kemudi dengan tangan kanannya. Meski kecepatannya masih tetap diatas rata-rata.
“Kamu kenapa nggak pernah takut sih, kalau aku bawa mobil kayak gini?”
Chyntia menengok kearah Langit. Ia menatap cowok itu dalam. “Aku nggak pernah takut.”
“Kenapa?”
“Karena…. Aku tahu apapun yang terjadi, aku selalu yakin kalau kamu jodoh aku. Cuma mungkin, dulu bukan waktu yang tepat untuk kita berjodoh.”
Langit terdiam. Seutas senyum tersungging di bibirnya. Perlahan ia menyentuh tangan Chyntia. Menggenggam erat tangan gadis itu. Memberikan kehangatan semampu ia bisa… “Chyn, maafin… aku… aku pikir ini saatnya aku bilang itu..”
“LANGIIIT AWAAASS!!!”
DUAAARRRR!!!
***
Dan…. Gelap.
Tidak ada cahaya…
Tidak ada suara…
Hampa…
Mati….
-THE END-
by : @anggabegood
Sampai saat ini gw beranggapan kalau semua orang yang ada di dunia ini selalu menginginkan kesempurnaan hadir menyapa mereka, hampir semua orang di dunia selalu berusaha dengan sangat keras supaya sebuah ketepatan datang dan mengetuk pintu depan rumah mereka dengan ramah dan baik hati, yah walaupun terkadang yang terjadi malah sebaliknya. Sebuah ketepatan waktu juga jadi tolak ukur yang patut diperhitungan, hidup itu sama seperti waktu, sekali dia bergulir dia engga akan pernah bisa balik lagi. Maka dari itu kita selalu punya masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Apa yang terjadi di masa lalu engga kan pernah bisa balik lagi dan yang bisa kita lakukan hanyalah mengenang semua memori yang terjadi di masa lau itu di dalam kepala kita, seperti menekan tombol rewind, pause, dan play berulang-ulang. Masa sekarang adalah masa yang secara nyata kita jalani, berakibat baik dan buruk semua itu tergantung dari pilihan yang kita buat, terkadang salah atau meleset sedikit saja bisa jadi berpengaruh begitu besar bagi masa depan kita nantinya, masa depan yang kita engga pernah tahu seperti apa bentuknya, masa dimana kita selalu mereka-reka di masa sekarang berdasarkan pengalaman kita di masa lalu.
Setiap harinya dalam hidup kita, kita selalu berlomba dengan waktu dan mencari tahu dimana ketepatan waktu itu berada, kadang kita menang dan kadang kita kalah dengan telak. Tapi gw tersadar bahwa waktu yang tepat itu engga selamanya bisa tepat, ehmmm terdengar membingungkan yah?. Berikut sedikit penjelasan dari gw kenapa waktu yang tepat itu bisa jadi sangat tidak tepat.
resensi:
Sisi mengenakan gaun terbaiknya malam itu, gaun yang didominasi dengan warna maroon dan gold, harus kita akui dia terlihat sangat manis dengan gaun itu. Ini adalah malam yang ditunggu-tunggu oleh Sisi, malam ini Andi mantan kekasihnya yang masih sangat ia sayangi berulang tahun yang ke 21. Semuanya sudah Sisi siapkan malam ini mulai dari gaun, hadiah, dan bagaimana caranya dia menyampaikan ucapan ulang tahun dengan cara yang paling baik kepada Andi karena Sisi ingin Andi tahu kalau dia masih mencintainya dan ingin kembali merajut benang-benang asmara yang sempat terputus beberapa waktu yang lalu. Oke semuanya sudah tepat pada tempatnya guman Sisi dalam hati. Dia melirik jam tangannya dan menyegerakan langkahnya supaya bisa sampai di pesta ulang tahun Andi tepat waktu.
Suasana rumah itu terlihat sangat ramai dengan tamu-tamu yang terlihat sekali berdandan abis-abisan hanya untuk sebuah pesta ulang tahun. Sisi melangkah dengan pasti dengan hadiah yang sudah dia siapkan jauh-jauh hari. Sisi memasuki sebuah ruangan dimana banyak orang sedang berkumpul dengan suara mereka yang riuh rendah, tiba-tiba saja muka Sisi memerah. Sisi ingin meledak, berteriak, marah, dan menangis dengan kencang pada saat yang bersamaan. Sisi datang tepat di saat yang tepat waktu Andi mengumumkan pertunangannya dengan Indi, gadis yang baru saja ia kenal di kampusnya. Semua yang sudah sangat tepat dipersiapkan oleh Sisi malam itu terasa sangat tidak tepat dan percuma.
Disini kita bisa melihat bahwa semua yang kita rasa tepat bisa menjadi tidak tepat disaat yang bersamaan, yah terkadang waktu itu bisa mempermainkan kita seenak hatinya. Dan yang kena imbas paling besar adalah kita sendiri yang sudah susah setengah mati mengusahakan waktu itu biar bisa jadi tepat. Walaupun gw selalu merasa kalau engga akan waktu yang tepat kalau kita tidak mau membuatnya menjadi tepat, dan itu terjadi dengan Sisi. Dia datang tepat di saat yang tak tepat, terlalu banyak kemungkinan yang bisa terjadi dengan apa yang dialami oleh Sisi, tapi gw pun tetap percaya kalau waktu itu bisa tepat jika kita mau membuatnya tepat dan mengusahakannya dengan setepat mungkin.
catatan kaki : waktu itu tidak akan pernah kembali saat kita sudah melampaui dan membuat waktu jadi tepat adalah pilihan dan bukan kepasrahan.
anggabegood